Alat Penyaring Ampas Tahu Buatan Poliwangi

Banyuwangi Pedia – Dosen Poliwangi  Politeknik Negeri Banyuwangi memberikan trobosan baru untuk meningkatkan produktifitas industri tahu tradisional di Banyuwangi. Salah satunya membuat inovasi sebuah alat penyaring bubur kedelai atau ampas tahu.

Kondisi itu, berawal dari keluhan pekerja di Industri tahu konvensional yang sering mengeluh sakit pada bagian tangan dan bahu saat mengolah tahu. Karena, mereka sering mendapat beban berat saat proses penyaringan bubur kedelai.

Bacaan Lainnya

Beban berat yang dihasilkan yaitu dari kegiatan mengayunkan alat penyaring bubur kedelai dengan durasi selama 10-15 menit dalam satu kali proses penyaringan. Alat yang dibuat para dosen Poliwangi itu ternyata sedikit meringankan beban pekerja industri tahu.

Beberapa dosen Poliwangi yang tergabung dalam tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) itu diketuai oleh Dian Ridlo Pamuji dari program studi Teknik Mesin, Galang Sandy Prayogo dari program studi Teknik Mesin dan Driyanto Wahyu Wicaksono dari program studi Agribisnis sebagai anggota.

Trobosan baru yang dikeluarkan oleh para dosen Poliwangi ini berupa mesin penyaring ampas tahu. Mesin yang digunakan yaitu menerapkan penggunaan teknologi motor DC yang hemat dan mudah.

Motor DC adalah suatu perangkat yang mengubah energi listrik menjadi energi kinetik atau gerakan (motion). Kelebihan yang ditawarkan pada mesin dengan konsep motor DC adalah kemudahan pada perawatan dan pengoperasiannya juga alokasi biaya yang dibutuhkan relatif kecil.

“Siapapun dapat mengoperasikan mesin penyaring ampas tahu ini karena prosesnya mudah,” jelas Dian Ridlo, ketua tim PKM Poliwangi, Minggu (3/10/2021)

Selain itu, kata Dian, tujuan utama dalam kegiatan PKM ini yaitu pada penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) kepada UMKM pengolahan tahu untuk memudahkan dan mempercepat proses penyaringan tahu.

“Mesin penyaring ampas tahu ini bekerja dengan menggantikan peran pekerjaan untuk mengayun alat penyaring bubur kedelai yang selesai dimasak. Dengan menggunakan mesin ini dapat meringankan pekerja untuk mengayun alat penyaring yang berat dan panas yang dapat membahayakan,” ungkapnya.

Mesin penyaring ampas tahu yang buatan tim PKM Poliwangi selanjutnya ditransfer kepada mitra untuk memberikan pelatihan terkait pengoperasian dan perawatan mesin. Mitra dari tim PKM ini yaitu UMKM produksi tahu dari Sudarto di Kecamatan Gambiran.

“Sebelum ditransfer ke mitra, mesin penyaring bubur kedelai ini sudah dilakukan uji coba dan dinyatakan layak untuk meringankan beban pada industri tahu,” katanya.

Kepedulian para dosen Poliwangi ini mendapat apresiasi oleh Sudarto selaku pemilik industri tahu. Menurutnya, menggunakan mesin penyaring ini dapat mempercepat dan mempermudah proses penyaringan bubur kedelai.

“Alhamdulillah, dengan adanya mesin ini dapat membantu saya dalam proses penyaringan bubur kedelai dengan mudah dan cepat,” ungkap Sudarto.

Nantinya, tak hanya sampai pada proses penyerahan mesin kepada mitra saja namun, tim PKM Poliwangi juga akan terus melakukan pendampingan mengenai penggunaan mesin penyaring ini. (BP/Ndy/Len)