Asyik, Napi di Bondowoso dapat Cuti Bersyarat

Bondowoso – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II B Bondowoso memberikan asimilasi dan integrasi kepada sejumlah narapidana. Ada 167 warga binaan di Lapas tersebut yang mendapat jatah itu, 31 di antaranya bisa cuti bersyarat.

Berdasarkan data di Lapas Bondowoso, total Napi yang menjalani asimilasi ada 97 orang. Jumlah ini terhitung mulai 1 Januari 2021 hingga 21 Oktober 2021.

Sebanyak 39 orang di antaranya mendapat integrasi berupa pembebasan bersyarat (PB).

“Mereka yang mendapatkan asimilasi dan integrasi adalah Napi dengan kasus yang tidak termasuk atau di luar Peraturan Pemerintah No 99,” Kalapas Bondowoso, Sarwito, Kamis (21/10/2021).

Sarwito menyebut, kasus dalam PP Nomor 99 tersebut yaitu kasus narkoba, hukuman lima tahun ke atas, terorisme, korupsi, kejahatan trans nasional. Selain itu, kasus pencurian yang dilakukan beberapa kali, kasus asusila, perlindungan anak.

“Mereka yang bisa diberikan asimilasi yang sudah setengah menjalani masa pidananya,” ujarnya.

Tujuan lainnya, kata Sarwito, pemberian asimilasi dan integrasi itu seseuai Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 24 Tahun 2021. Yaitu, untuk antisipasi penularan Covid-19 lebih besar dalam Lapas dan rutan.

“Karena memang di dalam Lapas over kapasitas. Kemudian dalam pelaksanaan pencegahan pandemi Covid-19 ada phisycal distancing. Lebihnya adalah untuk mengurangi dampak penularan Covid-19 dalam Lapas dan Rutan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sarwito menyatakan, mereka yang menjalani asimilasi ini tidak bebas secara murni. Karena, masih ada kewajiban pembinaan oleh Balai Pemasyarakatan di kabupaten Jember.

” Jadi mereka setiap satu bulan sekali atau berapa minggu sekali wajib lapor ke Balai Pemasyarakatan untuk pemantauan dan pembinaan bimbingan di kuar lembaga,” ujarnya.

Menurutnya, untuk pengawasannya sendiri dilakukan oleh pembinaan kemasyarakatan yang merupakan institusi dari Balai Pemasyarakatan. Artinya, masih naungan Kementerian Hukum dan HAM.

Hanya saja memang untuk pengawasan dilakukan secara daring karena masih dalam masa pandemi Covid-19. Pengawasan dilakukan secara berkala.

“Baik setiap saat, atau seminggu sekali, sesuai kebutuhan. Kemudian, juga ada tatap muka langsung untuk melapor. Kalau dalam pengawasan Balai Pemasyarakatan mereka melakukan pelanggaran lagi, ya kita masukkan lagi ke dalam untuk menjalani sisanya,” imbuhnya.

Sarwito menambahkan, bagi mereka menjalani asimilasi akan mendapat ketentuan khusus asal tak melanggar peraturan yang berlaku.

“Sepanjang mereka tidak melanggar ketentuan asimilasi dan integrasi, mereka tidak akan dikembalikan lagi ke Lapas walaupun pandemi sudah berakhir,” pungkasnya. (Ndy/Cha)