Banyuwangi Mulai Kehilangan Petani, Ini Buktinya

  • Whatsapp

Banyuwangi Pedia – Luas wilayah Banyuwangi yang notabene dikelilingi hutan, sawah dan lautan tak menjadi jaminan semua warganya memanfaatkan kekayaannya. Salah satu contohnya adalah petani.

Banyuwangi mencatat adanya pengurangan jumlah petani. Meskipun jumlah lahan sawah abadi di Banyuwangi terbilang masih cukup luas hingga mencapai 66 ribu hektar.

Bacaan Lainnya

Tapi nyatanya, tak semua warga menjadi petani. Bahkan, mereka cenderung tak banyak yang mau menjadi petani. Meskipun, ada sebagian warga yang lahir dari keluarga petani sekalipun.

Memang ada banyak faktor yang mempengaruhi kondisi itu. Sehingga komplek untuk dijelaskan alasan masing-masing.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Banyuwangi, Arief Setiawan mengakui hal itu. Pihaknya menyebut, kecenderungan petani justru semakin berkurang.

“Generasi muda cenderung minatnya berkurang menjadi petani. Memang kenyataan begitu. Kita melihat saja di sawah, orang tanam sudah mulai berkurang. Artinya sulit memang kita menemukan ada yang benar jadi petani, ada pemilik sawah yang cenderung jadi bosnya saja, bukan jadi petani,” kata Arief, Minggu (6/6/2021).

Arief menyebut, penyebab utama berkurangnya petani adalah dari minimnya minat. Apalagi, potensi yang ada saat ini usianya memang jauh lebih tua sehingga sangat diperlukan regenerasi.

“Penyebabnya memang peminat tidak ada, mereka cenderung tidak ada daya tarik. Mereka masih menganggap menggarap sawah itu identik dengan pupuk bau, kotor, penuh lumpur dan lain-lain,” ujarnya.

Padahal, lanjut Arief, saat ini dengan teknologi semua bisa dikerjakan. Sehingga pemuda atau petani modern saat ini tak perlu lagi khawatir.

“Menggarap sawah tidak harus turun, sekarang sudah ada teknologi, sudah jamannya mekanisasi,” jelasnya.

Jika dibiarkan berlanjut, bukan tidak mungkin akan mengganggu keseimbangan pangan. Dampak lain tentunya ketersediaan pangan juga akan menurun.

“Jika berlanjut jelas berpengaruh, siapa akan menggarap sawah. Nantinya pemilik sawah ujungnya akan men-swastakan sawah mereka. Padahal Kita harus mempertahankan lumbung pangan, menjaga ketersediaan tetap terpenuhi,” katanya.

Arief mengakui, mencari petani muda di bawah 40 tahun sulit. Bahkan jumlahnya kini hanya sekitar 12 persen saja.

“Kita ini sudah 3 tahun konsen memberikan pendekatan. Melalui program kita ini, kita tidak ingin mereka generasi muda langsung ke sawah, tapi kita memberikan stimulan usaha pertanian mereka. Agar semakin ringan caranya memperbanyak, kita ajak berkelompok,”

“Pada 2018 ada 3 poin yang kita tawarkan. Yaitu melalui proposal, rintisan usaha dan usaha. Dan yang tahun ini adalah usaha mereka. Dengan adanya ini harapan kita sedikit banyak akan mengajak mereka pada akhirnya turun ke sawah ikut menanam, dan mengembangkan usaha khususnya pertanian,” pungkasnya. (dri)

Pos terkait