Inovasi Poliwangi, Hidroponik Tenaga Surya

Banyuwangi Pedia – Dosen Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) berikan inovasi teknik bertani terbarukan. Kali ini dosen Poliwangi mengenalkan metode bercocok tanam dengan bantuan tenaga surya.

Program ini merupakan suatu pengembangan pertanian berbasis hidroponik. Mengusung sistem pertanian perkotaan (urban farming) guna memanfaatkan lahan sempit sebagai tempat bercocok tanam.

Bacaan Lainnya

Menggunakan teknik budidaya hidroponik dengan sistem DFT (Deep Flow Technique). Sistem DFT ini menitikberatkan kepada sirkulasi aliran air yang konstan untuk membawa nutrisi makanan cadangan tumbuhan.

Melalui sistem DFT, maka pompa air harus bekerja terus menerus. Dengan begitu kebutuhan energi listrik untuk menggerakkan pompa harus selalu tersedia.

Kebutuhan energi listrik untuk menggerakkan pompa air ini menggunakan energi panel surya. Penggunaan panel surya diharapkan dapat mengurangi konsumsi energi berbasis fosil atau minyak. Melimpahnya energi matahari dapat dimanfaatkan di bidang pertanian khususnya hidroponik.

Beberapa dosen yang tergabung dalam tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) diantaranya Abdul Rohman (Prodi Teknik Manufaktur kapal) sebagai ketua, Abdul Holik (Prodi Agribisnis) dan Herman Yuliandoko (Prodi Teknik Informatika) sebagai anggota.

Kelurahan Singonegaran, tepat di jantung kota Banyuwangi di pilih sebagai tempat PKM dosen Poliwangi untuk menerapkan urban farming. Kondisi lingkungan yang padat penduduk sangat tepat jika bercocok tanam dengan menggunakan teknik hidroponik tenaga surya.

“Kegiatan ini terdiri dari beberapa tahap kegiatan yakni sosialisasi, praktek dan monitoring. Pada tahap kegiatan sosialisasi, dilakukan dengan memberikan materi tentang potensi energi solar panel dan pentingnya pertanian hidroponik dengan sistem DFT, ” jelas Abdul Rohman.

Pemahaman energi terbarukan merupakan wawasan baru sehingga membuat warga lebih perhatian terhadap energi bersih (Green Clean). Selain itu, melalui program ini masyarakat dapat memahami pentingnya memilih konsumsi sayuran sehat dan bersih untuk keluarga.

Membuat rangkaian saluran air, membuat nutrisi dan menyemai bibit saat kegiatan praktek bersama. Penyemaian bibit tanaman menggunakan media tanam rockwoll.

Kegiatan yang dilakukan pada tahap monitoring yaitu memberikan konsultasi atau pendampingan jika ada masalah terjadi yakni terkait tingkat pertumbuhan, campuran air sesuai kadar nutrisi yang dibutuhkan, dan pengecekan instalasi kelistrikan Solar Panel.

“Pendampingan dilakukan selama 2 bulan untuk memastikan proses perawatan tanaman hingga proses panen selesai,” lanjutnya.

“Terima kasih dosen Poliwangi sudah membantu dan mengenalkan program inovasi pertanian ini kepada warga lingkungan Singonegaran yang notabene pemukiman padat penduduk, sehingga lahan hijau sangat sedikit serta kondisi panas yang tinggi,” ungkap Achmad Saichu selaku Kepala Kelurahan.

“Saya berharap warga dapat menerapkan metode pertanian ini dengan ketersediaan lahan yang sempit dan menciptakan urban farming yang semestinya,” imbuhnya. (BP/Len/Ndy)