Kisah Maulid Nabi Muhammad dan Filosofi Endog-endogan di Banyuwangi

Banyuwangi Pedia – Banyuwangi punya tradisi unik untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada bulan rabiul awal setiap tahunnya. Dikenal dengan tradisi muludan endog-endogan oleh masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya.

Tradisi endog-endogan ini tradisi yang ada di Kabupaten Banyuwangi dan sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu. Tradisi unik ini merupakan salah satu budaya masyarakat Banyuwangi yang tidak ada di tempat lain.

Tradisi endog-endogan merupakan acara yang diadakan untuk mengarak bunga telur (kembang endog). Tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Banyuwangi ini menunjukkan kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW dan sebagai pertanda budaya gotong royong antar masyarakat Banyuwangi.

Endog dalam bahasa Indonesia berarti telur. Telur ayam yang sudah direbus selanjutnya dihias dengan kertas warna warni dan ditancapkan ke sebilah bambu kecil. Nantinya, kembang endog akan di tancapkan ke sebuah jodang yang terbuat dari pohon pisang. Sebelum ditancapkan, pohon pisang dihiasi dengan kertas warna warni untuk menambah kemeriahan acara arak-arakan endog-endogan.

Pohon pisang yang digunakan dalam tradisi ini merupakan sebuah visual pohon kehidupan dengan tambahan hiasan kembang endog menambah keunikan acara yang digelar. Tradisi pawai endog-endogan ini biasa dilakukan di semua kecamatan yang ada di Kabupaten Banyuwangi, terutama masyarakat yang mayoritas suku Osing.

Dikutip dari chanel YouTube Osing creator berikut filosofi telur ayam yang terdiri dari tiga lapisan yaitu kulit telur, putih telur dan kuning telur.

Kulit telur (cangkang) diibaratkan sebagai keislaman seseorang atau identitas muslim. Putih telur diibaratkan sebagai keimanan seorang muslim yang suci. Sedangkan kuning telur diibaratkan sebagai keihsanan seorang muslim yang iman.

Namun perlu diketahui, tradisi endog-endogan ini tidak dilaksanakan secara serentak pada 12 rabiul awal, tapi selama satu bulan. Waktunya bergantian dari tempat satu ke tempat lainnya. Jadi, selama satu bulan Kabupaten Banyuwangi diramaikan dengan beragam pawai endog-endogan.

Hasnan Singodimayan sejarawan dan budayawan Banyuwangi menyebut perayaan endhog-endhogan selalu menggunakan telur itik. Ini juga mengandung filosofis mendalam.

“Kalau telur ayam, ayam bertelur dua saja sudah koar-koar kemana-mana, tapi kalau bebek atau itik ini masiyo bertelur banyak tetap saja diam,” kata Hasnan.

Tak hanya itu, perbedaan menggunakan telur dalam tradisi ini juga memiliki maksud berbeda. Itik dilambangkan dengan sesuatu yang selalu dekat dengan air.

“Itik juga mudah diarahkan, apalagi dia sering dekat dengan air alias sering berwudlu. Jelas kalau umat islam yang dekat dengan air wudlu insya Allah akan lebih dengan Tuhan-Nya,” ucapnya lagi.

Sementara itu, sejarah lahirnya tradisi endhog-endhogan Banyuwangi ini dimulai sejak sekitar 1926 lalu, atau beberapa bulan setelah deklarasi jam’iyah NU.

Saat itu, Syaikhona Kholil, Bangkalan memanggil para alumnus Ponpes Kademangan Bangkalan yang dipimpinnya. Mereka antara lain adalah KH. Hasyim Ashari, pendiri Ponpes Tebu Ireng Jombang, Kyai Abdul Karim, Lirboyo Kediri, Kyai Abdul Wahab Hasbulloh, Tambak Beras Jombang, dan RM.Mudasir atau dikenal KH.Abdullah Fakih pendiri Ponpes Cemoro, Balak Songgon Banyuwangi.

Selain itu ada juga, KH. Asmuni, Teratai Sumenep Madura, Kyai Ach. Abas Buntet Cirebon, serta Kyai Nawawi Gersik dan lain-lain.

“Mbah Yai Kholil itu ngendika, saiki kembange Islam wis lahir ning Nusantara arupa endhog. Yoiku, kulite NU isine amaliyah ke-NU-an. Kulit tanpa isi kopong, isi tanpa ono kulite ya keleleran.” Kata Fauzi, saat di Pendapa Sabha Swagata Blambangan, dikutip pada Jum’at (1/12/2017).

Sepulang dari tempat itu, kata Fauzi, para Kyai tersebut kembali ke daerah masing-masing. Mereka mentafsirkan apa yang disampaikan sang maha guru Syaikhona Kolil tersebut.

“Salah satunya Kyai Abdullah Fakiq yang mengumpulkan telur dan meneluarkan jodang dari gedebog pisang kemudian telor yang ditusuk dengan bilah bambu, dihias bunga-bunga ditancapkan pada gedebog. Kemudian diangkat berkeliling kampung sembari melantunkan salawat dan bacaan dzikir lainnya,” katanya.

Hingga waktu berlalu, tradisi ini terus berkembang dan lestari di tanah Blambangan. Meski awalnya hanya dilakukan oleh kalangan warga suku Using, yang notabene mayoritas santri Mbah Abdullah Faqih. Namun, bergulirnya waktu tradisi ini telah membudaya dan merambah seluruh sendi lapisan warga lintas suku di Banyuwangi. (*)