Kisah Wirdjo Pembantai Manusia dari Banyuwangi, Bag 1

Banyuwangi Pedia – Periode 1987, warga Banyuwangi pasti akan teringat masa kelam oleh seorang pria bernama Wirdjo asal Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah. Kisah pria itu begitu fenomenal karena telah membantai puluhan orang dalam sehari.

Begitu sadis terdengar kisah ini bahkan seolah lebih sadis dan beringas dibanding seekor harimau yang menerkam mangsanya. Wirdjo dikenal memang sebagai pribadi yang temperamen. Sering marah, naik pitam dan bersikap tak tentu arah.

Bacaan Lainnya

Awal mula cerita diawali dari kisah kehidupan Wirdjo sebelum menjadi jagal atau pembantai. Kisah kehidupannya sebenarnya tidak banyak mengulas atau menceritakan kisah masa kecilnya.

Namun, menyebut nama Wirdjo pasti banyak orang yang mengenal sebagai pribadi yang sangat mudah tersinggung, suka marah-marah kepada siapapun. Bahkan, menjadi sesuatu yang lumrah bagi Wirdjo saat marah pasti dibarengi dengan menghunus senjata ke lawannya.

Wirdjo merupakan anak ke-5 dari 9 bersaudara. Dia terbilang aneh dan nyeleneh saat di masa mudanya dibanding orang pada umumnya.

Bahkan, pada suatu ketika, Wirdjo pernah memasak nasi sebanyak 5 kilogram, ditambah minyak goreng. Kemudian, semua nasi itu dimasak hingga semuanya menjadi nasi goreng dan dimakan sendiri.

Padahal, nasi sebanyak itu bisa dimakan oleh banyak orang. Sehingga untuk menetralisir kondisinya, ia lalu pergi ke sungai untuk berendam.

Lain cerita lagi, Wirdji sempat pergi ke warung di sekitar Simpang Lima Banyuwangi atau perliman. Saat itu, ia datang dengan pamannya.

Tak disangka, ia makan hingga lima piring nasi seolah tak pernah merasa kenyang. Bahkan, ia memesan sejumlah didih atau darah sapi beku yang digoreng untuk penambah nafsunya. Pemilik warung bahkan sempat berpikir takut tidak bisa membayar.

Wirdjo semakin menjadi-jadi, membuat orang di sekelilingnya mengelus dada. Saat seperti itu jangan ditanya soal pembayaran, karena dia akan tersinggung dan marah. Karena dia memiliki historis yang kelam soal uang ataupun financial.

Sebenarnya, Wirdjo terlahir dari keluarga yang mampu. Tapi, dia tergolong kurang beruntung dibanding saudara lainnya. Karena itu berkaitan dengan perilakunya yang suka judi dan mabuk-mabukan.

Pada suatu ketika, Wirdjo sempat bekerja di sebuah pabrik kertas di Jakarta. Tapi, peluangnya bekerja hanya seumur jagung lalu dia kembali ke Banyuwangi.

Sebabnya, Lagi-lagi karena sikapnya yang mudah marah. Diketahui, dia dipecat lantaran telah merusak mesin forklift di perusahaan itu. Ada yang bilang Wirdjo sengaja menabrakkan mesin itu ke dinding hingga rusak.

Setelah kembali ke kampunya di Banjarsari, Wirdjo berinisiatif menikah dengan seorang wanita. Tapi selang beberapa lama keduanya tidak mendapatkan keturunan.

Waktu berjalan, kemarahan demi kemarahan sering muncul. Bahkan suatu ketika Wirdjo meminta uang ke ibunya tapi tidak dikasih. Ia marah, bahkan sempat akan menusuk ibunya dengan sebuah keris. Saat marah, dia juga sering membawa sebilah parang panjang dengan ujung melengkung atau yang disebut jombret.

April 1987 kejadian pembunuhan sadis dimulai. Berawal dari kemarahan Wirdjo terhadap istrinya. Marah yang hanya dipicu masalah sepele sehingga berakibat fatal bin brutal.

Saat itu, Wirdjo menuntun hewan peliharaan di sebuah sawah. Lalu meminta istrinya yang berada di depan untuk minggir agar tidak tertabrak. Namun istrinya menolak.

Jawaban istrinya itu ternyata menyinggung perasaan Wirdjo. Sehingga ia naik pitam dan mengayunkan pecut ke tubuh istrinya hingga berkali-kali.

Istrinya lari ke rumah, namun Wirdjo tak menemukan. Istrinya pulang ke rumah orangtuanya di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah hingga Wirdjo mengejar dengan membawa senjata andalannya namun dia bertambah marah karena tak menemukan istrinya. (BP/Ndy)

Bersambung..