Mengais Rejeki Dialiran Limbah Pabrik

Limbah Pabrik
Seorang warga Kedungrejo, Muncar mengais limbah di aliran pabrik, (24/11/2014)

MUNCAR – Bagi sebagian warga menganggap pekerjaan satu ini memang tak lazim. Keseharian berkutat dengan limbah pabrik yang kotor dan bau menjadi hidangan setiap hari. Tapi, siapa sangka ini justru membuahkan rejeki.

Karena, anggapan tak lazim tersebut bagi para pekerja di sekitar pabrik pengolahan ikan di Muncar tersebut seakan tak membawa pengaruh besar untuk meninggalkannya, bahkan mereka tak menggubris apa kata orang lain.

Bacaan Lainnya

Karena bagi mereka, tak ada pekerjaan lain yang lebih berguna selain melakukan hal itu. Sesuatu yang menjadi alasan para warga ini bertahan adalah hasil yang cukup menggiurkan.

Siapa sangka, meski terlihat kotor, limbah tersebut memberikan rejeki yang cukup menjanjikan bagi mereka. Betapa tidak, adanya limbah dari hasil pengolahan ikan yang sengaja dikeluarkan dari pabrik-pabrik di selokan sekitar tempat tinggal warga memang menjadi pemandangan yang biasa.

Padahal jika mau memperhatikan secara seksama, kondisi air yang berada di selokan tidaklah cukup baik. Karena bercampur pekatan limbah yang berbau busuk.
Pengalaman bekerja mengais limbah ini sudah dilakukan oleh warga sekitar sejak beberapa tahun lalu.

Bahkan pekerjaan itu menjadi pekerjaan utama bagi warga sekitar pabrik. Sebut saja Miswari. Ibu tengah baya ini terlihat lesu saat ditemui Bisnis Banyuwangi sedang tertidur di depan pintu gerbang pabrik pengolahan ikan daerah sentra pabrik dekat bantaran sungai daerah Kedungrejo.

Niatnya mencari rejeki dari limbah tersebut telah dilakukan sejak empat tahun yang lalu. Ia biasa berangkat pagi, untuk bertugas mengambil busa dari air limbah dan dikumpulkan untuk menjadi minyak ikan.

Jika beruntung, dalam sehari ia mengaku mampu menghasilkan empat Jeriken minyak ikan ukuran 30 liter. Dalam satu jeriken biasanya dihargai dengan Rp 50 ribu. Sehingga tak kurang Rp 200 ribu mampu ia kantongi sebagai penghasilan murni dari hasil jerih payahnya sendiri.

“Ya nggak pasti, paling banyak biasanya empat jeriken atau tiga lah,” terangnya

Bahkan demi usahanya mencari nafkah tersebut, ia harus rela terlelap hingga menjelang malam hari tiba. Niatnya tak surut untuk mengejar rejeki meski kondisi cuaca memburuk menghambat lajunya.

Sang suami yang seorang pekerja pengayuh becak, tak mampu menjadi jaminan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hanya penghasilan dari limbah itulah yang dapat member andil besar dalam memenuhi kebutuhan mereka.

Disisi lain, dampak negative pembuangan limbah pabrik memberikan sinyal berbahaya bagi lingkungan. namun disisi lain memberikan dampak positif, karena limbah mampu menjadi penghasilan tambahan bagi warga yang mengaisnya. (***)

Source : 2014