Mengenal Tradisi Mocoan Lontar Hadis Dagang Suku Osing Banyuwangi

  • Whatsapp

Banyuwangi Pedia – Warga Suku Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah memiliki beragam tradisi dalam bercocok tanam salah satunya adalah selamatan sawah. Dalam tradisi ini ada ritual yang biasa tak lepas dari setiap kegiatan. Yaitu mocoan lontar hadis dagang.

Sebuah ritual yang mungkin amat asing bagi masyarakat awam, tapi umum bagi masyarakat Suku Osing. Seperti apa ritual ini?

Bacaan Lainnya

Selamatan dengan mocoan Lontar Hadis Dagang ini mirip dengan bacaan doa kebaikan bagi masyarakat saat memulai bercocok tanam. Tujuannya, agar terhindar dari hama wereng sehingga hasil panen yang didapat nantinya bisa maksimal.

Selamet Diharjo salah seorang warga dan Tokoh Muda Desa Adat Kemiren mengatakan selamatan ini mengharap agar rejeki melimpah dari hasil kebun dan pertanian.

“Saya menggelar tradisi selamatan sawah ini dengan mocoan Lontar hadis Dagang sebagai doa agar hasil kebun melimpah dan sawah yang ditanami menjadi bagus,” kata dia, Selasa (17/8/2021).

Selamet atau yang biasa disapa Samsul ini menyebut, mocoan lontar hadis dagang merupakan tradisi yang masih dilestarikan hingga kini. Meskipun seakan sulit bagi masyarakat awam untuk mengetahuinya.

“Lontar Hadis Dagang merupakan naskah kuno beraksara pegon yang menceritakan tentang kisah Nabi Muhammad SAW saat berdagang sebelum ditasbihkan menjadi Rasul,” katanya.

Sebagai pelaku adat, Selamet terdorong untuk melestarikan tradisi tersebut karena syarat makna. Di dalam tradisi mocoan terdapat karya tulis yang juga menceritakan kebun nan subur.

“Ini hanya dilakukan oleh satu keluarga di Desa Jambesari, Kecamatan Giri,” ungkapnya.

Dalam tradisi kali ini, Mocoan Lontar Hadis Dagang dilakukan empat orang di paglak atau gubuk sawah khas Osing. Usai bacaan itu, warga melanjutkan dengan makan bersama hidangan ritual berupa tumpeng serakat, tumpeng pecel pitik, sego golong dan jenang abang.

Adat suku osing
Warga Suku Osing Desa Kemiren, Banyuwangi menggelar makan bersama usai acara adat mocoan lontar hadis dagang di Sawah Art Space. (BP/Buc)

“Menu ini yang harus disiapkan setiap acara adat ini berlangsung. Semua ada filosofi dan maknanya,” katanya.

Selamet menceritakan di atas tanah berukuran 55×60 meter milik keluarganya itu kini menjadi tempat uri-uri adat budaya daerahnya. Sekaligus menjadi sumber penghasilan saat musim tanam dan panen tiba.

“Separuhnya ditanami tanaman seperti timun, kangkung ada juga buah manggis dan kelapa, sedangkan separuhnya lagi dijadikan menjadi pusat kegiatan kesenian dan adat yang saya beri nama Sawah Art Space,” terangya. (BP/Ndy/Buc).

Pos terkait