Poliwangi Bikin Alat Olah Sampah Bertenaga Surya

  • Whatsapp
Poliwangi
Inilah mesin olah sampah bertenaga surya buatan mahasiswa Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi). (BP/Ndy)

Banyuwangi Pedia – Mahasiswa Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) berhasil mengembangkan karya berupa mesin pengolahan sampah (Crusher) dengan dengan sistem tenaga surya. Sampah yang diolah terutama sampah organik.

“Mesin crusher ini melakukan pencacahan sampah organik dengan tenaga surya, lebih ramah lingkungan daripada menggunakan tungku talikung untuk pembakaran sampah,” ketua pelaksana PHDB UKM IMAM Politeknik Negeri Banyuwangi, Rusdi, Kamis (26/8/2021).

Bacaan Lainnya

Saat ini, kata Rusdi, pihaknya telah memberdayakan masyarakat melalui program olah sampah (POS) ini. Desa Pakistaji, Kecamatan Kabat dipilih sebagai lokasi Program Hibah Desa Binaan (PHDB) 2021.

“Desa Pakistaji ini dipilih karena lokasi yang disurvey oleh Tim PHDB memiliki permasalahan terhadap sampah. Sampah organik yang diproduksi masyarakat terutama sampah dapur belum di olah kembali sehingga terkadang menjadi permasalahan setempat. Dengan pelaksanaan sosialisasi,” katanya.

Tim PHDB, kata Rusdi, telah melakukan penyuluhan hingga pembuatan alat dari akhir Bulan Mei hingga Pertengahan Juni. Program ini berjalan lancar hingga penyerahan alat kepada masyarakat.

“Mesin crusher ini dapat menampung kapasitas sampah organik 1 ton per hari degan waktu pengoperasian mesin kurang lebih 6 jam per hari dengan menggunakan tenaga surya agar lebih ramah lingkungan,” ungkapnya.

Rusdi menjelaskan mesin crusher yang dibuatnya dapat mengolah beberapa jenis sampah organik. Di antaranya rumput, limbah sayur, limbah daun, ranting kecil, dan bahan organik yang lainnya.

“Cara kerja mesin crusher, Pertama yaitu mengecek terlebih dahulu untuk memastikan semua sistem dalam mesin aman. Kemudian tekan tombol on atau start untuk menyalakan mesin tersebut. Untuk jalurnya dari panel langsung masuk ke dinamo atau motor penggerak yang kemudian diteruskan ke sistem pencacah melalui v-belt atau rantai,” jelasnya.

Di dalam sistem pencacahan sendiri meliputi berbagai macam-macam komponen. Salah satunya pisau sebagai ujung tombak dari crusher kompos ini.

“Dengan menggunakan pisau inilah semua material organik akan dicacah menjadi kecil-kecil,”

Poliwangi
Mahasiswa Poliwangi Banyuwangi menciptakan mesin olah sampah bertenaga surya. (BP/Ndy)

Kemudian, lanjut Rusdi, ada As dan dudukan pisau As merupakan tempat menempelnya dudukan pisau. As ini bekerja dengan cara berputar, jika As ini berputar maka pisau dan dudukan pisau juga akan bergerak.

“Box / body (ruang pencacah ) ini juga tak kalah pentingnya dari sebuah mesin pencacah sampah organik , bagian ini harus dibuat tebal sebab di dalam box inilah limbah sampah organik nanti akan di giling,” ujarnya.

“Hasil dari pencacahan sampah organik tersebut akan digunakan sebagai kompos,” Tutup Rusdy.

Sementara itu, Nuraini Lusi dosen pendamping program PHDB Poliwangi menyebut, setiap tahun kampus mengadakan program pengabdian seperti ini. Hal itu untuk memfasilitasi mahasiswa dalam mengimplementasikan keilmuan yang didapatkan selama proses perkuliahan kepada masyarakat.

“PHDB merupakan salah satu wujud dari Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian masyarakat,”

“Tahun ini, rekan-rekan dari UKM IMAM memberdayakan masyarakat melalui program olah sampah (POS) terutama dalam pengolahan sampah organik,” ucap Nuraini Lusi.

Ketua Karang Taruna Desa Pakistaji, Rizal Fikri mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh Poliwangi.

“Terima kasih kepada adik-adik dari Poliwangi yang bersedia memilih desa kami sebagai tempat pengabdian. Semoga dengan adanya pengabdian ini dapat membantu masyarakat dalam mengatasi permasalahan sampah dan juga menggerakkan para pemuda untuk lebih peduli lagi terhadap lingkungan,” jelasnya. (BP/Ndy)

Pos terkait