Ritual ke Buyut Sentono Penjaga Sumber Air Abadi di Banyuwangi

  • Whatsapp

Banyuwangi Pedia – Warga Banyuwangi memang dikenal masih kental dengan nilai budaya dan adat istiadatnya. Tak terkecuali dengan melakukan ritual. Banyak warga yang masih memegang erat budaya leluhur sebagai bagian dari keistimewaan menjaga warisan.

Suku Osing misalnya. Banyak budaya yang masih lestari dari jaman nenek moyang hingga kini.

Bacaan Lainnya

Banyak warga suku ini yang masih melestarikan budaya dan adatnya meskipun telah berganti generasi. Adat seakan tak pernah luntur di makan jaman.

Paling baru ada sebuah ritual yang dilakukan oleh warga Suku Osing Lingkungan Pancoran, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah. Mereka melakukan ritual bersih desa ke sebuah sumber mata air yang diyakini memiliki nilai sakral bagi masyarakat setempat.

Awal ritual seperti biasa, mereka menyiapkan segala keperluan untuk sesaji. Biasanya terdapat makanan khas pecel pitek, cok bakal berisi bunga, kemenyan dan sejumlah perlengkapan lain.

Setelah perlengkapan dirasa cukup, mereka harus membawanya ke lokasi ritual. Para warga harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk mencapainya. Sekitar 2 kilometer dari permukiman mereka.

Sesampainya di lokasi, ritual bersih desa ini dimulai dengan pembacaan doa oleh tokoh adat dengan membakar serat batok kelapa yang diberi kemenyan serta menyiapkan beberapa sesajen di sumber mata air. Isi sesaji itu, di antaranya jeroan ayam kampung, bunga mawar, nasi putih dan lauk pecel pitik.

Saat berjalannya ritual, tokoh adat tiba-tiba kerasukan roh leluhurnya. Roh itu diyakini sebagai manifestasi Mbah Buyut Sentono sebagai penjaga sumber mata air desa setempat.

Tingkah aneh muncul. Sang tokoh tiba-tiba tak sadar mengendus wewangian sari bunga dan asap kemenyan dari sesaji. Bahkan, dengan mata terpejam ia mengunyah bunga yang berada di takir atau wadah terbuat dari daun pisang yang disematkan.

Tak lama, ritual usai diakhiri dengan doa bersama. Seluruh warga percaya adanya ritual akan memutus tolak bala dan menyambung rejeki di kemudian hari.

Usai doa, warga secara bersama-sama menyantap nasi beserta lauk pecel pitik di bawah pohon beringin. Suasana guyub rukun tampak dari gelak tawa, dan bercengkrama antar sesama.

Ritual bersih desa ini, dilaksanakan setiap tanggal 14 Muharram atau bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Ritual digelar di sumber mata air Pancoran karena dinilai sakral dan dianggap sebagai sumber mata air yang dapat mengalir terus meski di musim kemarau.

Selain itu, adanya sumber mata air itu dapat memberikan kehidupan terhadap masyarakat dan lahan pertanian yang sebagian besar warganya adalah petani. (BP/Ndy)

Pos terkait