Sebelum Meninggal, Ki Manteb Sudarsono Sering ke Alas Purwo

Alas Purwo
Suasana hutan di Alas Purwo

Banyuwangi Pedia – Siapa tak mengenal dalang kondang asal Jawa Tengah Ki Manteb Sudarsono. Dalang dengan jargon Oye itu ternyata dulunya sering ke Alas Purwo.

Saat ini Ki Manteb Sudarsono telah tiada. Usia dan penyakit yang dideritanya membuat sang legenda dunia pewayangan itu pulang lebih cepat.

Bacaan Lainnya

Meski demikian, cerita hidupnya saat masih membekas di ingatan. Bahkan saat dirinya kerap mengunjungi tempat sakral di negeri ini. Tak terkecuali datang ke Alas Purwo.

Tin Suto dikutip dari YouTube Viper Kediri menceritakan tentang pengalamannya mendampingi sang maestro dalang kondang itu. Sehingga muncul pertanyaan mengapa Alas Purwo dipilih, dan kenapa dia datang ke Alas Purwo.

Tak dipungkiri, Alas Purwo merupakan hutan belantara yang bagi sebagian orang menganggap sakral. Alas Purwo juga memiliki sejarah panjang yang bermakna bagi kalangan tertentu.

Keheningan dan kesunyian suasananya membuat orang khusuk berkomunikasi dengan sang pencipta. Alas Purwo menyimpan berjuta sensasi saat mendatanginya.

“Sebelum meninggal, beliau pernah berucap akan datang ke Alas Purwo bersama saya,” kata Suto saat bercengkrama dengan media ini.

Pensiun pegawai Taman Nasional Alas Purwo itu memang memiliki sederet kenangan saat bersama Ki Manteb. Karena, Suto adalah orang yang sering diajak untuk menemani saat singgah ke Alas Purwo.

“Kalau ke Alas Purwo pasti saya diajak,” katanya.

Lalu apa yang dilakukan oleh Ki Manteb Sudarsono di Alas Purwo? Seperti apa kisahnya.

Tin Suto 36 tahun menjadi Polisi Hutan di Alas Purwo. Dia tahu betul saat pertama kali Ki Manteb datang ke Alas Purwo.

“Waktu itu sekitar tahun 1986, datang saat masih jalannya jelek belum di hotmix. Bahkan kendaraan yang digunakan sampai macet kecelep dengan lumpur. Kemudian kendaraan diseret sama cikar,” kata Suto.

Kemudian karena kondisi saat malam dan gelap, akhirnya Ki Manteb dan rombongan memutuskan bermalam di Pos Rowobendo.

“Karena penerangan tidak seperti sekarang, beliau membelikan dua lampu petromax untuk menemani sambil melekan di situ,” katanya.

Saat datang, kata Suto, Ki Manteb bercerita kalau dirinya adalah seorang dalang. Tapi, sayangnya dulu dia belum terkenal.

“Dia berujar ingin menjadi orang terkenal. Kemudian singkat cerita, saya ada isyarah dan saya sampaikan. Ada muncul cahaya yang itu adalah sebuah gaman atau keris yang dipakai untuk bisa terkenal,”

“Lalu Ki Manteb menanyakan syaratnya untuk menebus keris itu. Syaratnya pitung takir jenang ireng, pitung takir jenang putih,” ucap Suto.

Ternyata, Ki Manteb menangkap isarat itu. Yang artinya harus melakukan semedi tujuh hari, tujuh malam untuk menebusnya.

“Ya artinya harus ritual itu, tanpa tidur, tanpa makan selama itu. Syarat lainnya untuk melakukan ritual itu saat berangkat tidak boleh pamitan,” ungkapnya.

Lalu, apakah Ki Manteb mau melakukan ritual itu? Bersambung.. (***)