Selamatan Desa, Orang Saling Cambuk di Situbondo

  • Whatsapp

Situbondo, Banyuwangi Pedia – Salah satu desa di Kabupaten Situbondo memiliki ritual unik untuk memperingati hari lahir desanya. Tepatnya di Desa Bugeman, Kecamatan Kendit.

Selamatan desa, atau biasa orang Situbondo menyebut dengan khadisah. Sementara ritualnya dinamakan Ojung.

Bacaan Lainnya

Beda dengan daerah lain, Ojung biasanya sebagai ritual meminta hujan. Tapi, di Desa Bugeman justru menjadi tradisi selamatan desa yang diperingati tiap tahun.

Ritual ini telah berjalan turun temurun setiap selamatan desa. Warga desa ini percaya ritual Ojung dapat mengusir bencana atau balak.

Ojung juga menjadi ritual agar desa terhindar dari pertikaian, kedatangan berbagai macam penyakit, hewan ternak mengalami kematian serta hasil pertanian yang menurun, atau gagal panen di kebun.

Oleh karena itu masyarakat Desa Bugeman tidak berani meninggalkan tradisi Ojung.

Lebih dari itu, Ojung juga sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan. Tradisi ini sudah menjadi suatu keharusan yang harus dilaksanakan oleh kepala desa dalam rangka khadisah.

Layaknya ritual Ojung lainnya, alat yang digunakan adalah bilahan rotan. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengenakan sarung dan kopyah.

Dengan iringan musik gamelan, gendang dan gong, peserta siap beraksi. Mereka nantinya saling mengayun cambuk rotan yang dipersiapkan panitia.

Baca juga : Orang Ini Pernah Melihat Gus Dur di Alas Purwo

Panitia penyelenggara Ojung bukanlah orang sembarangan. Harus ada ketentuan, yaitu ditunjuk langsung oleh kepala desa setempat. Pembuat sesajen pun ditunjuk oleh kepada desa, yaitu orang yang dipercaya dalam proses pencarian bunga atau kembang seribu macam. Menariknya, pembuat sesajen dan orang yang mencari bunga adalah orang yang sama dan hanya boleh dilakukan oleh 1 orang.

Sesajen harus disiapkan dan dikerjakan segala prosesnya satu bulan sebelum acara Ojung dihelat. Aturan dalam aksi kesenian ojung ini tiap pemain memiliki jatah memukul dan menangkis masing-masing tiga kali.

Ojung digelar sebagai lomba dengan ketentuan para petarung unjuk kebolehan memainkan senjata rotan untuk mencambuk badan lawan. Dalam lomba ini, setiap petarung diberi kesempatan tiga kali untuk mencambuk badan lawan secara bergantian. Saat bersamaan petarung satunya juga harus pintar menangkis cambukan lawan juga dengan rotan. Cambukan yang paling banyak mengenai badan, akan menjadi pemenang. (BP/ Ndy)

Pos terkait